NICHIRO
SHONIN
(1245 – 1230 )
Nichiro (1245-1230) adalah keponakan dari Nissho, dan ia
menjadi pengikut Nichiren Shonin pada tahun 1254. Ia merupakan
salah satu murid paling setia dan sering juga disebut sebagai
‘murid kesayangan’ Nichiren Shonin. Ketika Nichiren
Shonin dibuang ke Izu, Nichiro berusaha mengikutinya dengan
cara ikut melompat ke laut. Para samurai berhasil mengusirnya
dengan dayung yang mengakibatkan tangan Nichiro menjadi
cacat selamanya. Nichiro juga turut ditangkap dalam peristiwa
Tatsunokuchi dan dimasukkan ke dalam penjara di Kamakura.
Pada saat inilah ia menerima surat untuk menguatkan hatinya
dari Nichiren, dimana kemudian hari surat ini menjadi amat
terkenal. Nichiro belakangan berhasil mengambil hati sipir
penjara sehingga ia diijinkan untuk meninggalkan penjara
dan pergi mengunjungi Nichiren Shonin di pulau Sado. Nichiren
Shonin sungguh terharu akan ketulusannya akan tetapi juga
khawatir karena perbuatan Nichiro bisa membahayakan hidup
sipir tersebut sehingga ia disuruh untuk kembali. Akhirnya,
Nichiren Shonin diampuni dan Nichiro diutus untuk menyampaikan
kabar tersebut. Akan tetapi keinginannya yang menggebu-gebu
hampir saja menyebabkan ia terbunuh. Karena ia tanpa istirahat
terus melanjutkan perjalanannya dalam cuaca yang amat dingin,
ia terjatuh pingsan di salju dan hampir saja tewas akibat
serangan hawa dingin. Untunglah ia ditemukan dan berhasil
tertolong sehingga ia mampu menyelesaikan tugasnya.
Ketika kembali ke Kamakura pada tahun 1274, Nichiren Shonin
menugaskan Nichiro untuk memimpin sebuah kuil baru di Hikigayatsu,
Kamakura, yang bernama kuil Myohonji. Karena pusat aktivitas
Nichiro terletak di Kamakura, garis keturunan Nichiro juga
dikenal dengan garis keturunan Hikigaytsu.
Nichiro juga memulai sebuah aula pelatihan
di rumah Munenaka Ikegami setelah Nichiren wafat disana
pada tahun 1282, yang akhirnya pada tahun 1288 berubah menjadi
kuil Honmonji. Pusat administrasi Nichiren Shu saat ini
terletak disana. Karena alasan inilah, garis keturunan Nichiro
juga disebut garis keturunan Ikegami.
Nichiro menunjuk Sembilan Murid Senior (Kurosu) untuk melanjutkan
usahanya dalam menyebarluaskan ajaran Nichiren Shonin. Kesembilan
murid tersebut antara lain adalah : Nichizo, Nichirin, Nichizen,
Nichiden, Nichihan, Nichiin, Nitcho, Nichigyo, and Rokei.
Dari kesembilan tersebut, Nichizo merupakan salah satu murid
yang patut diperhatikan karena dialah yang membawa Buddhisme
Nichiren ke Kyoto dan memperoleh pengakuan sah dari kaum
kerajaan. Nichizo akan dibahas lebih lanjut di bagian lain.
Nichirin kemudian mengambil alih kuil Myohonji dan kuil
Honmonji. Sedangkan Nichiden turut membangun kuil Hondoji
di Hiraga, Shimofusa bersama dengan Nichiro.
NIKKO SHONIN
(1246-1333)
Nikko (1246-1333) bertemu dengan Nichiren
Shonin di kuil Jissoji pada tahun 1257. Pada saat itu Nichiren
Shonin sedang merampungkan Rissho Ankoku-ron. Belakangan,
Nikko memiliki banyak pengikut di propinsi Suruga, Kai, dan
Izu. Nichiji, salah satu dari Enam Murid Utama, awalnya merupakan
murid Nikko sebelum akhirnya menjadi pengikut Nichiren Shonin.
Peristiwa Penganiayaan Atsuwara pada tahun 1279 ditujukan
kepada para pengikut Nikko di propinsi Suruga. Setelah wafatnya
Nichiren, keenam Murid Utama beserta duabelas pendeta pemula
mengambil tugas tanggung jawab merawat makam Nichiren di Gunung
Minobu dengan menggunakan sistem rotasi (Rinban). Dari keduabelas
pengikut pemula tersebut, delapan diantaranya merupakan murid
langsung dari Nikko.
Pada bulan September 1285, Nikko mendirikan
kediaman tetapnya di Gunung Minobu karena sistem rotasi mengalami
kegagalan. Para Murid Utama lainnya tinggal di daerah yang
lebih jauh lagi dan mengalami banyak kesulitan untuk mempertahankan
komunitas mereka akibat penganiayaan yang dilakukan oleh pemerintah.
Nanbu Sanenaga, penguasa di Hakii, telah menganggap Nikko
sebagai kepala pendeta kuil Kuonji di Gunung Minobu. Akhirnya
pada tahun 1285, Niko datang ke Gunung Minobu untuk membantu
Nikko. Sayangnya, hubungan mereka dengan segera berubah menjadi
buruk akibat sikap Nikko yang kaku dan Niko yang terlalu fleksibel.
Masalah pertama terjadi ketika Hakii ingin
mendirikan sebuah patung Buddha Shakyamuni untuk kuil di kediamannya.
Nikko berpendapat bahwa patung tersebut hendaknya disertai
dengan Empat Bodhisattva Agung dari bagian pokok Saddharma
Pundarika Sutra sebagai perlambang dari Buddha Shakyamuni
Abadi. Sedang Niko mengatakan bahwa dengan meletakkan Saddharma
Pundarika Sutra di depannya telah mencukupi. Di kesempatan
lain, Hakii memberikan persembahan di kuil Mishima. Nikko
berkeberatan dengan hal ini sebab menurut Rissho Ankoku-ron,
dewa-dewi Shinto telah meninggalkan negara Jepang akibat dari
penganiayaan terhadap Saddharma Pundarika Sutra. Akan tetapi
Niko berpendapat bahwa dewa-dewi pasti akan melindungi pelaksana
Saddharma Pundarika Sutra dan bahwa Nichiren sendiri pun telah
berdoa kepada mereka. Dalam setiap kasus, Niko selalu mendukung
Hakii, sedangkan Nikko menentangnya. Pada akhirnya, karena
merasa tidak lagi diterima Nikko memutuskan untuk pulang ke
rumah ibunya di Fuji, Ueno pada tanggal 5 Desember 1288.
Pada tahun 1290, penguasa di Ueno, Nanjo
Tokimitsu, mendirikan kuil Taisekiji di Oishigahara untuk
Nikko. Nanjo Tokimitsu merupakan paman dari salah seorang
murid Nikko, Nichimoku.
Pada tahun 1291, Nikko pindah ke kota Omosu
di Kitayama dimana ia mendirikan kuil Honmonji pada bulan
Februari 1298 dengan bantuan dari Nitcho. Dia menghabiskan
sisa hidupnya di kuil ini, dan garis keturunannya dikenal
sebagai garis keturunan Fuji.
Nikko menunjuk dua kelompok Enam Murid Utama
untuk menggantikan dia setelah kematiannya. Kelompok pertama
terdiri dari: Nikke, Nichimoku, Nisshu, Nichizen, Nissen,
dan Nichijo. Kelompok kedua terdiri dari: Nichidai, Nitcho,
Nichido, Nichimyo, Nichigo, dan Nichijo.
NISSHO
SHONIN
(1221-1323)
Pada tanggal 8 Oktober 1282 di kediaman Munenaka Ikegami,
Nichiren Shonin menunjuk keenam Murid Senior (Roku Roso) untuk
melanjutkan usahanya setelah Beliau wafat. Keenam orang ini
adalah Nissho (1221-1323), Nichiro (1245-1320), Nikko (1246-1333),
Niko (1253-1314), Nitcho (1252-1317), dan Nichiji (1250-1305?).
Nissho (1221-1323) sebelumnya merupakan sesama
murid dengan Nichiren Shonin ketika belajar di Gunung Hiei.
Meski setahun lebih tua, ia begitu terkesan dengan Nichiren
Shonin sehingga bergabung menjadi pengikutnya di Kamakura
ketika Nichiren pertama kali berceramah disana pada tahun
1253. Dikatakan bahwa Nissho diadopsi oleh Kanoye Kanetsune,
pemimpin ketiga dari keluarga Kanoye, sebuah keluarga bangsawan
di Kyoto. Hubungan ini kelak akan mempunyai arti penting dalam
penyebar luasan Buddhisme Nichiren.
Setelah peristiwa Tatsunokuchi, Rissho mendirikan kediamannya
di Hama, Kamakura. Pada tahun 1284, pertapaan Hamado berubah
menjadi kuil Hokkeji. Karena garis keturunan Nissho pertama
kali berasal dari Hama, maka dikenal pula dengan sebutan garis
keturunan Hama. Pada tahun 1317, Nissho menyerahkan kuil Hokkeji
kepada muridnya, Nichiyu. Kuil Hokkeji kemudian dipindahkan
ke Tamazawa, Izu pada tahun 1621 dan berganti nama menjadi
kuil Myohokkeji.
Nissho dan keponakannya, Nichiro, mengalami masa-masa yang
amat sulit di Kamakura setelah wafatnya Nichiren Shonin. Pada
tahun 1284, Nissho menyerahkan versi Rissho Ankoku-ron yang
telah direvisi kepada kaum Shogun di Kamakura. Versi yang
baru ini menambah dalam kritik Nichiren atas pemfitnahan yang
dilakukan oleh sekte Shingon dan Tendai. Seperti halnya tulisan
asli Nichiren Shonin terdahalu, versi yang ini pun memicu
kericuhan, yang berusaha membakar pertapaan Hamado. Nissho
menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa sesungguhnya ia
adalah pendeta Tendai yang setia yang hanya berusaha merombak
Buddhisme Tendai. Nissho dan Nichiro sekali lagi menggunakan
alasan yang sama bahwa mereka hanyalah orang-orang yang ingin
merombak sekte Tendai dan bukannya mencoba mendirikan sekte
baru yang ilegal pada saat Menteri Perang Yoritsuna sekali
lagi mencoba menekan Buddhisme Nichiren pada tahun 1285.
Menteri Perang Yoritsuna menuntut agar mereka
bergabung dengan sekte-sekte lain pada saat dilakukan upacara
mendoakan kedamaian bagi keluarga Hojo yang mengontrol para
shogun di Kamakura. Untuk melindungi komunitas Buddhis Nichiren
yang baru saja terbentuk di Kamakura, Nissho dan Nichiro melunak
dan bersedia berpartisipasi dalam upacara tersebut. Meski
mereka sempat mengajukan petisi untuk mengadakan debat dengan
sekolah-sekolah lain.
Nissho dan murid-muridnya mungkin saja memang
menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang ingin merombak
sekte Tendai. Garis keturunan Hama tetap mempertahankan hubungan
baiknya dengan sekolah Tendai untuk jangka waktu yang lama,
dan bahkan mengutus murid-muridnya ke Gunung Hiei untuk mempelajari
filosofi Tendai dan bahkan menerima pentahbisan mereka.
Nissho juga mendirikan kuil Myohoji di Nase,
Sagami pada tahun 1306. Kuil ini diserahkan kepada murid Nissho,
Nichijo pada tahun 1307. Kuil Myohoji kemudian dipindahkan
ke Murata, Echigo ketika donatur utamanya, Nobuaki Kazama
pindah kesana.
NIKO SHONIN
(1253-1314)
Niko (1253-1314) merupakan anak seorang samurai
dari Mobara, Kazusa. Ia sedang menjadi pendeta pemula di Gunung
Hiei pada saat ayahnya bertemu dengan Nichiren Shonin pada
tahun 1265. Ayahnya begitu terkesan sampai ia membawa Niko
kembali dari Gunung Hiei untuk menjadi pengikut Nichiren Shonin.
Niko kemudian membabarkan Saddharma Pundarika Sutra di kota
kelahirannya Mobara. Tetapi ketika ia mengetahui berita tentang
pengasingan Nichiren Shonin, ia mengikuti Beliau ke pulau
Sado. Atas alasan inilah ia dikenal sebagai Master Sado.
Setelah wafatnya Nichiren Shonin, Niko mendirikan
kuil Myokoji di Mobara. Pada tahun 1285, ia meninggalkan Mobara
dan pergi membantu Nikko di Gunung Minobu. Sayangnya, ia dan
Nikko tak mampu mempersatukan perbedaan pendapat di antara
mereka sehubungan dengan permasalahan tuan Hakii sehingga
akhirnya Nikko pergi pada tahun 1288. Niko kemudian seorang
diri bertanggung jawab atas Gunung Minobu, tapi ia sering
mengadakan perjalanan kembali ke Mobara. Karena alasan inilah,
Niko dianggap sebagai pendiri dua garis keturunan: garis keturunan
Mobara dan garis keturunan Minobu. Niko menugaskan muridnya,
Nisshin untuk mengurusi Gunung Minobu; dan muridnya yang lain,
Nisshu untuk mengurus kuil Myokoji di Mobara. Kuil Myokoji
saat ini dikenal dengan kuil Sogenji.
NITCHO
SHONIN
(1252-1317)
Nitcho (1252-1317) merupakan anak angkat
dari salah satu pengikut awam penting Nichiren Shonin, Toki
Jonin (1214-1299). Ia adalah pendeta pemula di kuil Tendai,
bernama Guboji di Mama, Shimofusa. Atas rekomendasi ayah angkatnya,
Yoki Jonin, ia menjadi pengikut Nichiren Shonin pada tahun
1267. Ia juga ikut menemani Nichiren Shonin dalam pembuangannya
ke pulau Sado.
Pada tahun 1278, Nitcho berhasil memenangkan debat melawan
kepala pendeta di kuil Guboji dan tak lama kemudian mengambil
alih kuil tersebut. Pada saat itu, Buddhisme Nichiren adalah
sekte yang tidak diakui, sehingga kuil Guboji tetap merupakan
kuil Tendai, setidaknya begitulah dari sisi formalitasnya.
Sayangnya, hubungan antara Nitcho dan Toki Jonin kemudian
berakhir. Pada tahun 1292, Nitcho pergi ke Omosu, Kitayana
tempat kelahirannya. Di Omosu, ia bergabung dengan Nikko dan
membantunya mendirikan kuil Honkonji.
Sepeninggal Nitcho, Toki Jonin mentahbiskan
dirinya sendiri dan mengambil nama Nichijo. Ia kemudian mendirikan
kuil Hokkeji di kediamannya di Wakamiya. Kuil Hokkeji bersebelahan
dengan kediaman Ota Jomyo, seorang lagi pengikut awam penting
Nichiren Shonin. Putra dari Ota Jomyo menjadi seorang pengikut
Nichijo dan diberi nama Nichiko. Ketika Nichijo wafat, Nichiko
mengubah kediaman ayahnya di Nakayama menjadi sebuah kuil
yang bernama Hommyoji. Pada tahun 1545, Hokkeji dan Hommyoji
bergabung menjadi Nakayama Hokekyoji. Di masa sekarang ini,
Nakayama Hokekyoji terkenal sebagai lokasi pelatihan pengendalian
diri 100 hari yang dikenal sebagai Aragyo. Nichijo juga terkenal
karena usahanya mengumpulkan dan mengkatalogkan tulisan-tulisan
Nichiren Shonin. Garis keturunan yang dimulai oleh Nichijo
juga dikenal sebagai garis keturunan Nakayama.
NICHIJI
SHONIN
(1250-1305)
Nichiji (1250-1305) juga merupakan putra
seorang samurai. Ia menjadi pelajar pemula di kuil Jissoji,
dimana Nikko bertemu dengan Nichiren Shonin untuk pertama
kalinya. Pada tahun 1270, ia bertemu Nikko dan menjadi pengikutnya.
Nikko kemudian membawa Nichiji untuk bertemu dengan Nichiren
Shonin di Kamakura, dan mengijinkannya untuk menjadi murid
langsung Nichiren Shonin. Pada tahun 1280 ia mendirikan aula
pelatihan di Mimatsu, kota kelahirannya. Kelak tempat ini
akan berubah menjadi kuil Reneiji. Setelah wafatnya Nichiren
Shonin, ia memutuskan berkelana ke luar negeri untuk memenuhi
impian gurunya memulihkan kembali ajaran sesungguhnya dari
sang Buddha di India dan China. Pada tanggal 13 Oktober 1294,
ia menghadiri upacara peringatan wafatnya Nichiren Shonin
untuk yang terakhir kalinya. Pada tanggal 1 januari 1295 ia
memulai perjalanannya ke Cina. Ia diyakini meninggal di Senka,
Cina. Nichiji tidak memiliki garis keturunan, tetapi ia dikenang
sebagai missionaris oleh Nichiren Shu. |