“Kami” Mahluk Gaib Shinto
Kamus Shinto Populer menjabarkan kami sebagai berikut:
“Kami bisa mengacu kepada keagungan, kekeramatan, spiritual, dan keajaiban dari sifat atau energi dari suatu tempat dan benda, mahkluk gaib dari mitologi lokal maupun kerajaan, roh-roh dari alam dan tempat, para pahlawan yang dipuja, leluhur, penguasa, dan negarawan.” (hal. 84)
Di Jepang, sebuah teori bernama honji-suijaku diciptakan untuk menjelaskan hubungan antara kami dari Shinto dan para buddha dan bodhisattva dari Buddhisme. Istilah tersebut memiliki arti “inti hakekat mendasar dan perwujudan penjelmaan” dan didasarkan pada ajaran Tendai bahwa Buddha dalam sejarah dari separuh bagian awal Saddharma Pundarika Sutra adalah perwujudan penjelmaan dari Buddha Abadi dari Separuh bagian akhir Saddharma Pundarika Sutra. Teori honji-suijaku mengatakan bahwa sesungguhnya kami dari Shinto adalah perwujudan sementara dari para Buddha dan Bodhisattva. Dalam Dasar-Dasar Buddhisme Jepang (Vol.II), hubungan antara Nichiren dan kami dirangkum sebagai:
“Nichiren dihadapkan pada permasalahan yang sama yang dihadapi oleh semua pemimpin Kamakura berkaitan dengan peran dari para dewa penduduk setempat. Seperti halnya pendiri dari gerakan-gerakan lainnya, ia dengan sendirinya mengidentifikasikan kami dengan negara Jepang itu sendiri dan secara teliti ia menyadari pentingnya peran dari para dewa dan kepercayaan penduduk bagi masyarakat, yang ingin ia pengaruhi. Untuk menjelaskan peran dari para dewa dalam ajaran-ajarannya, Nichiren menggunakan teori honji-suijaku (perwujudan hakekat sesungguhnya). Ia menganggap setiap dewa Shinto dimulai dari dewi Matahari adalah sebuah suijaku (perwujudan) dari Sakyamuni yang Abadi dari Saddharma Pundarika Sutra dan ia juga percaya bahwa para dewa memiliki suatu kewajiban untuk melindungi para penganut sutra ini, juga untuk menghukum para musuh mereka. Dihadapkan dengan apa yang ia anggap sebagai bencana-bencana aneh yang terjadi di seluruh negeri, Nichiren hanya bisa menyimpulkan bahwa para dewa telah mengabaikan negara dan kembali ke tempat mereka di surga.” (hal.167-168)
“Sikap Nichiren terhadap para dewa penduduk lokal cenderung agak bertentangan. Di pulau Sado, orang-orang yang melihat ia berteriak di atas sebuah puncak gunung kepada matahari dan bulan, percaya bahwa ia telah menjadi gila, tapi ini adalah cara Nichiren berhubungan dengan para dewa, mendesak mereka untuk memenuhi kewajiban mereka, dan menyerang para musuh dari Saddharma Pundarika Sutra dan mengakhiri berbagai bencana yang menimpa seluruh negeri. Ia juga memarahi mereka karena telah mengabaikan tugas-tugas mereka. Oleh sebab itu ia bimbang antara kemarahan ketika ia menganggap mereka lalai menjalankan tugasnya, dengan kepercayaan tertentu bahwa mereka berkumpul di atasnya dan melindungi ia terhadap iblis.” (hal. 168)
Nichiren juga mungkin telah merasa bahwa kami Shinto adalah termasuk para dewa lokal dan maka dari itu tidak sepenting para dewa Vedic yang lebih berkuasa yang telah diuniversalkan melalui Buddhisme. Dalam Tindakan-tindakan Penganut Saddharma Pundarika Sutra, sebuah tulisan dari Nichiren, kami Shinto diperbandingkan dengan para dewa Vedic, dan kedua-duanya baik kami maupun para dewa dikatakan adalah pelayan dan pelindung dari penganut Saddharma Pundarika Sutra:
“Meski saya sendiri mungkin tidaklah penting, saya menyebarkan Saddharma Pundarika Sutra dan oleh sebab itu saya adalah utusan dari Buddha Sakyamuni. Dewi Matahari dan Bodhisattva Agung Hachiman, yang tidak penting, diperlakukan dengan penuh rasa hormat di negeri ini, tapi mereka hanyalah dewa-dewi kecil dibanding dengan Brahma, Shakra, para dewa matahari dan bulan, dan keempat raja langit… Karena saya adalah utusan dari Buddha Sakyamuni, raja segala ajaran, Dewi Matahari dan Bodhisattva Agung Hachiman seharusnya membungkukkan kepala mereka di hadapan saya, menyatukan telapak tangan mereka, dan merebahkan diri mereka. Utusan dari Saddharma Pundarika Sutra dijaga oleh Brahma dan Shakra di kedua sisinya, dan para dewa matahari dan bulan menerangi jalan di depan dan dibelakangnya.” (hal.772-773)
Incoming search terms:
- dewa pain shinto
- hendi shinto dewo
- teori honji suijaku



